Mikologi

i. Pengertian / Batasan Mikologi

 
Mikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jamur. Jamur adalah tumbuh-tumbuhan berbentuk sel atau benang becabang, mempunyai dinding dari selulosa atau kitin atau keduanya , mempunyai protoplasma yang mengandung satu atau lebih inti, tidak mempunyai klorofil dan berkembang biak secara aseksual. Seksual atau keduanya.

ii. Struktur

Jamur tumbuh dalam 2 bentuk dasar. Sebagai yeast / ragi dan molds. Pertumbuhan dalam bentuk molds adalah dengan produksi koloni filamentosa multiseluler. Koloni ini mengandung tubulus silindris yang bercabang yang disebut hifa. Diameter hifa ini bervariasi dari 2 – 10 cm. Massa hifa yang jalin – menjalin dan berakumulasi selama pertumbuhan aktif adalah miselium. Beberapa hifa terbagi menjadi sel –sel oleh dinding pemisah atau septa, yang secara khas terbentuk pada interval yang teratur selama pertumbuhan hifa.

Ragi adalah sel tunggal, biasanya berbentuk bulat atau elips dan diameternya bervariasi dari 3 – 15 ┬Ám. Koloni ragi biasanya lunak, opaq, berukuran 1 – 3 mm, dan berwarna krem.

Semua jamur mempunyai dinding sel kaku yang penting untuk menentukkan bentuknya. Dinding – dinding sel sebagian besar terbentuk oleh lapisan karbohidrat, rantai – rantai panjang polisakarida juga glikoprotein dan lipid. 

iii. Klasifikasi Jamur

Klasifikasi jamur adalah berdasarkan mekanisme dan spora yang dihasilkan dari reproduksi seksual yang pada kebanyakan kasus melibatkan strain – strain yang dapat kawin, fusi, nukleat, meiosis, dan bertukar informasi genetik. Group – group taksonomi utama tertera di bawah. Suatu spesies bisa dikenali dan ditentukan berdasarkan tahap aseksual (yaitu inperfekta atau anamorfik), tetapi teleomorfik atau identitas seksualnya bisa memiliki nama yang berbeda.

Berdasarkan pada cara dan ciri reproduksinya terdapat empat kelas yaitu :

1. Phycomycetes

Reproduksi seksual menghasilkan suatu zygospora yang meleburkan ujung – ujung hifa multinukleat. Ujung – ujung ini terdiri darilepuh – lepuh terminal cabang – cabang hifa ; Reproduksi seksual terjadi melalui sporangia. Hifa vegetatif bersepta jarang. Phycomycetes mempunyai talus miselium yang berkembang dengan baik. Hifa fertil menghasilkan sporangium pada ujung sporangiospora. Contohnya rizhopus, absidia, mucor, pilobolus.

2. Ascomycetes
Reproduksi seksual melibatkan suatu kantung atau ascus yang didalamnya terjadi karyogami dan meiosis, yang memproduksi ascospora. Reproduksi aseksual adalah melalui konidia. Mold mempunyai hifa bersepta. Organisme ini dapat hidup sebagai saprofit pada selaput – selapu lendir. Contohnya ajellomyces ( genus anamorfik, mikrosporum, trichophyton ) dan genus ragi seperti sacharomyces.

3. Basidiomycetes
Reproduksi seksual menghasilkan 4 keturunan basidiospora yang ditunjang oleh suatu basidium berbentuk gada. Hifanya mempunyai septa yang rumit.Dari antara kurang lebih 12.000 spesies basidiomycetes tidak ada satupun yang ada hubungannya dengan penyakit manusiasampai dengan baru – baru ini. Contohnya : jamur merang, filobasidiella neoformans ( anomorf, cryptococcus neoformans)

4. Deuteromycetes
Ini merupakan pengelompokan buatan dari jamur imperfekta yang teleomori dan reproduksi seksualnya belum ditemukan. Tahap anaformik ditandai dengan conidia aseksual. Bila siklus seksualnya ditemukan, suatu spesies digolongkan kembali untuk mencerminkan filogennya yang seksual. Sebagian besar deuteromycetes paling patogenik terhadap manusia, karena mereka sering kali membentuk spora aseksual beberapa macam di dalam spesies yang sama, sehingga dapat membantu dalam mengidentifikasikannya di laboratorium. Contohnya : Histoplasma capsulatum, yang menyebabkan histoplasmosis, Blastomyces spp., yang menyebabkan blastomikosis, Coccidioides immitis yang menyebabkan koksidioidomikosis, paracoccidioides brasiliensis, dan candida albicans.

iv. Penggolongan jamur berdasarkan kepentingan kesehatan
Beberapa jamur dapat menyebabkan penyakit pada manusia.Hanya sekitar 200 spesies dari 300.000 spesies yang menyebabkan penyakit pada manusia. Infeksi karena fungi ( mikosis ) dapat berupa :

1. Jamur penyebab penyakit di permukaan tubuh ( Mikosis Superfisial )

Mikosis superficial terjadi apabila infeksi terletak superficial atau terbatas di kulit dan apendiksnya (rambut dan kuku).berikut ini adalah beberapa penyakit yang berada di permukaan kulit :

a. Panu (pityriasis versicolor / tinea versicolor)

Panu adalah infeksi kronis superficial yang ringan pada stratum korneum yang disebabkan oleh malassezia furfur.
Gejalanya berupa : macula hiper / hipopigmentasi pada kulit (muka, dada, punggung atas, lengan, atau perut), dengan batas tegas , bersisik halus, rata, gatal terutama bila berkeringat.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain : mandi teratur dua kali sehari, menjaga daerah lipatan kulit agar tetap kering, dan mengenakan baju bersih.

b. Kurap (tinea)
Tinea adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur dan banyak terdapat di daerah tropis. Kelainan yang pertama adalah gatal terutama ketika berkeringat. Lesi di kulit berupa bercak sirkuler yang melebar berbatas tegas dengan dasar kemerahan dan bagian tengah bersisik. Menurut tempatnya ada beberapa jenis tinea :

· Tinea Pedis (athlete’s foot)
Disebabkan oleh Trichophyton, epidermophyton floccosum.
Lokasi lesi : ruangan sel jari kaki pada orang yang memakai sepatu.

Gejala klinis : terdapat rasa gatal pada sela jari kaki, kemudian muncul vesikel-vesikel kecil kemudian pecah fan mengeluarkan cairan encer. Bila menjadi kronis menifestasinya adalah pengelupasan dan pecah-pecah pada kulit, bersisik terdapat fissure disertai nyeri dan gatal.
· Tinea Unguium (Onychomikosis)

Disebabkan oleh E.floccosum dan genus Trichophyton
Lokasi lesi : kuku
Gambaran klinis : kuku menebal kuning, lunak dan merapuh di ujungnya. Warnanya menjadi kusam.
· Tinea corporis, Tinea cruris, dan Tinea manus.

Penyebab : T.rubrum, T. mentagrophytes, E.floccosum
Merupakan dermatofitosis pada kulit tak berambut dengan lesi berupa annular ringworm, tangahnya bersisik, tepi berwarna merah melebar, kering ataupun vesikuler 

2. Jamur penyebab infeksi kutaneus (profunda)

Mikosis profunda atau mikosis dalam ialah penyakit jamur yang mengenai alat dalam. Penyakit ini dapat terjadi karena jamur langsung masuk ke alat dalam, misalnya paru-paru, melali luka atau menyebar dari permukaan kulit atau alat dalam lainnya.

Penyebab profunda ialah jamur pathogen atau jamur saprofit yang menjadi pathogen karena adanya factor predisposisi, atau terdapat gangguan system imun.

3. Subcutaneous (sistemik)

Jamur yang menyebabkan infeksi subkutan dalam keadaan normal hidup di tanah atau pada tumbuhan. Mereka memasuki kulit atau jaringan subkuntan mellinokulasi traematik dengan bahan terkontaminasi. Secara umum lesi bersifat granulomatosa dan meluas perlahan dari daerah implantasi.

Jamur Penyebab Penyakit
Tipe Mikosis
Agen Jamur Penyebab
Mikosis
Permukaan Kulit
Subkutan
Endemis ( primer, sistemik )
Oportunistik
Malassezia furfur
Hartaea werneckt
Spesres irrchosporon
Piedrata hartae
Spesies microsporum, spesies trichophyton,dan epidermophyton floccosum,
candida albicans dan spesies candida lainnya
Sporothrix schenckli
Phiallophora verrucosa, fonsecaea pedrosoi, Pseudallesheria boydii, madurella mycetomatis, Exophialla, bipolaris exserohilum, dan lainya
Coccidioides immitis
Histoplasma capsulatum
Blastomyces dermatitidis
Paracoccidioides brasiliensis
Candida albicans dan spesies candida lainnya
Cryptococcus neoformans
Aspergillus fumicatus dan spesies aspergillus lainnya
Spesies Rhizopus, absidia mucor, dan zygomyceteslan penicillium marneffei
Pituriosis versikotor
Tinea nigra
Piedra putih
Piedra hitam
Dermatofitosis
Candidiasis kulit mukosa dan kuku
Sporotridosis
Chromoldastosis
Mycetoma
Phaeohyphomikosis
Coccodioidomikosis
Histoplasmosis
Blastomikosis
paracoccidioidomikosis
candidiasis sistemik
cryptococcosis
aspergilosis
mucormikosis
penichiosis

v Reproduksi

Bagian terbesar suatu kapang secara potensial mampu untuk tumbuh dan berkembang bik. Inokulasi fragmen yang kecil sekali pada medium sudah cukup untuk memulai individu baru. Hal ni diperoleh dengan menanamkan inokulum pada medium segar dengan bantuan jamur transfer, suatu cara yang serupa dengan yang digunakan untuk bakteri.

Secara alamiah jamur berkembang biak dengan berbagai cara, baik secara aseksual dengan pembelahan, penguncupan, atau pembentukan spora. Tetapi dapat pula secara seksualdengan peleburan nukleus dari dua sel induknya. Pada pembelahan , suatu sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa. Pada penguncupan, suatu sel anak tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya.Spora aseksual yang berfungsi untuk menyebarkan spesies dibentuk dalam jumlah besar sedangkan spora seksual terbentuk lebih jarang dan dalam jumlah yang sedikit dibandingkan dengan spora aseksual, dan juga hanya terbentuk dalam keadaan tertentu.

No comments:

Post a Comment