tujuan olahraga

Kesehatan olahraga 

Dalam mencapai sasaran berolahraga, diharapkan jangan sampai terjadi cedera. Oleh karena itu maka pengukuran dosis pelatihan sangat penting. Sampai dengan dekade 90-an ukuran cedera dalam berolahraga terbatas kepada apa yang kasat mata bisa diukur, seperti tidk terjadi kesleo otot, terkilir, memar otot, patah tulang, rengat tulang, sampai kepada tendon putus, cedera sendi dan lain-lainnya. Tetapi akhir-akhir ini mulai diwacanakan dan ditunjukkan bukti-bukti bahwa berolahraga walaupun sudah direncanakan dengan dosis yang benar masih juga terjadi ekses pelatihan. Tanpa disadari, bahwa sedikit saja pelatihan bergeser ke batas atas dosis pelatihan, atau pelatihan yang mendadak pada seseorang yang tadinya pasif, akan menyebabkan perubahan-perubahan biokimiawi otot. Eksersais memulai respon fisiologis dan biokimiawi yang komplek (Eberhardt, 2001). Setiap gerakan otot yang cepat dimulai dengan metabolisme anaerobik. Tenaganya berasal dari pemecahan ATP dengan menghasilkan ADP atau Amp dan berlangsung di dalam mitokondria. Pelepasan energi disertai dengan meningkatnya aliran elektron dalam rangkaian respirasi mitokondria sehingga pembentukan Oksigen reaktif (O2-) dan H2O2 dan upaya meningkatkan pembentukan ATP. 

Exercise cenderung mengosongkan cadangan ATP, dan meningkatnya jumlah ADP. Tentunya hal itu merangsang ADP katabolisme dan konversi Xanthine dehydrogenase menjadi Xanthene oxidase. Xanthene oxidase inilah akan membentuk radikal bebas (O2-). Terbentuknya radikal bebas itu menyebabkan ketidak-seimbangan, yang disebut sebagai stres oksidatif, dengan hasil akhir rusaknya lemak, protein, dan DNA (Berhardt, 2001). Otot mulai menderita stres akibat terbentunya radikal bebas. Tentunya kejadian tersebut tidak diinginkan dalam kesehatan olahraga. 

Kalau hal itu terjadi maka keseimbangan dalam otot atau milie internal tubuh terganggu. Dalam keadaan normal zat yang bersifat pro- dan yang bersifat anti- selalu dalam keadaan seimbang. Dengan berolahraga dengan dosis yang tidak tepat maka akan menyebabkan radikal bebas bertambah (). Memang sekarang telah pula diketahui bahwa sebagai salah satu indikator dari jaringan menderita stres oksidatif ialah meningkatnya malonaldehid. Petanda lainnya bisa Creatine kinase (CK) dan lactate dehydrogenase (LDH) serum. LDH berperan pada step terakhir perubahan pyruvate menjadi lactate; sedangkan CK dipergunakan untuk mengubah kembali ADP menjadi ATP. 

Stres Oksidatif berhubungan dengan intensitas exercise. Pelatihan dengan intensitas tinggi merusak otot-otot.

No comments:

Post a Comment